BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 05 Maret 2011

Pragmatik

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial, sehingga secara naluriah terdorong untuk bergaul dengan manusia lain, baik untuk mengekspresikan kepentingannya, mengatakan pendapatnya, maupun mempengaruhi orang lain. Manusia dapat memenuhi semua kepentingan tersebut dengan bahasa. Eksistensi bahasa hampir mencakup segala bidang kehidupan karena segala sesuatu yang dihayati, dialami, dirasakan, dan dipikirkan oleh seseorang hanya dapat diketahui orang lain, jika telah diungkapkan dengan bahasa.
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana dalam Chaer, 2007: 32). Tidak dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila manusia tidak memiliki bahasa. Oleh karena itu, kebutuhan manusia untuk selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik dalam bentuk komunikasi, kerja sama, maupun mengidentifikasikan diri, menyebabkan bahasa tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia.
Perlu disadari bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan yang berlangsung apabila antara penutur dan mitra tutur memiliki kesamaan makna tentang pesan yang dikomunikasikan tersebut. Kesamaan makna antara penutur dan mitra tutur tersebut sangat bergantung pada konteks tuturannya. Artinya, makna sebuah tuturan akan berbeda jika konteks tuturannya berbeda. Oleh sebab itu, untuk mempelajari dan memahami makna bahasa (tuturan) dibutuhkan disiplin ilmu yang mampu menjabarkan bentuk bahasa dengan konteksnya, yaitu Pragmatik.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikaji dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Apa pengertian Pragmatik?
b. Bagaimana hakikat Pragmatik?
c. Bagaimana sejarah munculnya Pragmatik?
d. Bagaimana prinsip-prinsip Pragmatik?
Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang hendak dicapai makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Mendeskripsikan pengertian Pragmatik.
b. Mendeskripsikan hakikat Pragmatik.
c. Mendeskripsikan sejarah munculnya Pragmatik.
d. Mendeskripsikan prinsip-prinsip Pragmatik.

Manfaat Penulisan Makalah
Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi pembelajaran Pragmatik dan peneliti bidang Pragmatik.
a. Bagi pengajar Pragmatik, makalah ini dapat dijadikan bahan pembelajaran.
b. Bagi mahasiswa yang mempelajari Pragmatik, makalah ini dapat dijadikan salah satu literatur.
c. Bagi peneliti bidang Pragmatik, makalah ini dapat dijadikan landasan teori.

PEMBAHASAN

Pengertian dan Hakikat Pragmatik
Sejak masa pemunculannya, definisi pragmatik sangat banyak, di antaranya adalah (1) kajian mengenai hubungan di antara tanda (bahasa) dan penafsirannya (Poerwo, 1990:15), (2) telaah mengenai hubungan antara bentuk bahasa dan konteksnya (Tarigan, 1990:33), (3) kajian tentang hubungan-hubungan di antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa (Levinson dalam Gunarwan, 1993:3), dan (4) penelitian tentang hubungan antara bahasa dan konteks yang ditatabahasakan atau yang dikodekan di dalam struktur bahasa (Levinson, 1983:9).
Dari beberapa definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa makna bahasa (khususnya dalam wujud tuturan) ditentukan berdasarkan penggunaannya dalam komunikasi antara penutur dan mitra tutur, pemakaian bahasa atau tuturan selalu koheren dengan konteks dan bersama-sama membangun makna, hubungan antara tuturan dan konteks bisa dikaidahkan.
Pada hakikatnya pragmatik sama dengan semantik, sama-sama membahas makna. Perbedaannya terletak pada arah kajiannya, semantik mengkaji secara internal (ujaran dan makna), sedangkan pragmatik mengkaji secara eksternal (ujaran, makna ujaran, konteks/situasi).

Sejarah Pragmatik
Pada mulanya pragmatik lebih banyak diperlakukan sebagai keranjang tempat penyimpanan data yang bandel/yang tidak terjelaskan, yaitu data bahasa dalam komunikasi yang berkaitan dengan makna/maksud. Hal ini karena generasi awal dunia linguistik beranggapan bahwa makna/maksud terlalu abstrak untuk diteliti. Namun secara bertahap telah timbul kesadaran-kesadaran tertentu di dunia linguistik, yaitu bahwa makna/maksud dapat diteliti dan dipahami.
Secara ringkas sejarah pragmatik adalah sebagai berikut.
(1) Bagi generasi Bloomfield, linguistik berarti fonetik dan fonemik. Mereka menganggap sintaksis terlalu abstrak untuk dapat diteliti dan dipahami.
(2) Sikap dan pandangan generasi Bloomfield berubah ketika pada akhir tahun 1950-an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis (sintaksis mulai diteliti dan dipahami). Akan tetapi dia masih menganggap ‘makna’ terlalu rumit untuk dipikirkan secara sungguh-sungguh.
(3) Permulaan tahun 1960 (perkembangan linguistik meningkat) Katz dan kawan-kawan menemukan cara memasukkan makna ke dalam teori linguistik yang formal dan tak lama kemudian semangat California atau Bust membuat pragmatik mulai tercakup.
(4) Tahun 1971 Lakoff dan lain-lainnya berargumentasi bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari studi penggunaan bahasa. Sejak saat itulah pragmatik masuk ke dalam peta linguistik.
Tercakupnya pragmatik merupakan tahap terakhir dalam gelombang-gelombang ekspansi linguistik, dari sebuah disiplin sempit yang mengurusi data fisik bahasa, menjadi suatu disiplin yang luas yang meliputi bentuk, makna, dan konteks.
Para strukturalis Amerika yakin sekali bahwa linguistik merupakan suatu ilmu eksakta dan karena itu berusaha keras agar masalah makna dibuang dari bidang ini. Namun Chomsky mulai menerima ketaksaan dan sinonim sebagai salah satu data linguistik yang dasariah, ia telah membuka pintu bagi studi semantik. Kemudian murid-murid Chomsky dari aliran semantik generatif yang kurang puas, bertindak selangkah lebih jauh dan menggunakan semantik sebagai dasar teori-teori linguistik mereka. Tetapi setelah semantik berhasil menduduki tempat yang sentral dalam bahasa, semakin tampak betapa sulitnya memisahkan makna dari konteksnya, karena makna itu berbeda dari konteks satu ke yang lain. Akibatnya ialah semantik masuk ke dalam pragmatik.
Pada intinya, tata bahasa (misalnya kaidah sintaksis dalam analisis kalimat) dan pragmatik (prinsip-prinsip penggunaan bahasa) merupakan ranah-ranah yang saling melengkapi dalam linguistik. Kita tidak dapat memahami hakikat bahasa bila kita tidak mempelajari kedua ranah ini dan interaksi yang terjadi antara dua ranah tersebut.

Prinsip-prinsip Pragmatik
Menurut Leech (1993), pragmatik umum tidak dikendalikan atau tidak diatur (regulated) oleh kaidah seperti dalam semantik, melainkan prinsip (=retoris) yang bersifat nonkonvensional, yaitu dimotivasi oleh tujuan-tujuan sosial. Misalnya, seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk membersihkan kelas, dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut.
(1) Bersihkan kelasnya! (kalimat imperatif)
(2) Kelasnya kotor. (kalimat deklaratif)
(3) Saya ingin kelasnya bersih. (kalimat deklaratif)
(4) Kelasnya kotor sekali ya? (kalimat interogatif)
(5) Kenapa kelasnya kotor ya? (kalimat interogatif)
Hal ini karena dalam pragmatik makna diperlakukan sebagai suatu hubungan triadik. Makna bukan hanya ditentukan oleh tanda (unsur formal bahasa) dan acuannya melainkan juga penggunaannya yang notabene cara penggunaan bahasa setiap orang berbeda-beda. Dengan demikian, pragmatik bukan menyoal ”Apa artinya X” melainkan ”Apa yang dimaksud dengan X”.
Prinsip-prinsip pragmatik pada umumnya berasal dari teori Grice dan Leech yang mencakup Prinsip Kerjasama (PK) dan Prinsip Sopan Santun (PS).
• Prinsip Kerja Sama
(1) Maksim kuantitas: berikan jumlah informasi yang tepat; termanifestasikan dalam sub-sub maksim berikut.
(a) Sumbangan informasi harus seinformatif yang dibutuhkan.
(b) Sumbangan informasi tidak melebihi kebutuhan.
Contoh:
X: Siapa yang tidak mengerjakan PR?
Y: Saya Pak. (memang yang ditanyakan hanya siapa)
Y: Saya Pak, karena sakit. (yang ditanyakan hanya siapa, bukan mengapa)
(2) Maksim kualitas: usahakan sumbangan indormasi Anda benar; termanifestasikan dalam sub-sub maksim berikut.
(a) Jangan mengatakan sesuatu yang Anda yakini tidak benar.
Contoh:
X: Siapa yang mengambil buku di meja saya?
Y: Adi Pak. (padahal Y tahu bukan Adi yang mengambil buku)
(b) Jangan mengatakan sesuatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.
Contoh:
X: Siapa yang mengambil buku di meja saya?
Y: Sepertinya Adi yang mengambil Pak.
X: Apa kamu punya buktinya?
Y: ya tidak ada Pak. Tapi sepertinya memang Adi yang mengambil.
(3) Maksim hubungan: usahakan perkataan Anda ada relevansinya.
Contoh:
X: Siapa yang mengambil buku di meja saya?
Y: Harga buku itu lebih mahal ya Pak?
(4) Maksim cara: usahakan perkataan Anda mudah dimengerti; termanifestasikan dalam sub-sub maksim berikut.
(a) Hindarilah pernyataan-pernyataan yang samar.
Contoh:
X: Kenapa dia juga ditahan?
Y: Ya kena getahnya.
(b) Hindarilah ketaksaan.
Contoh:
X: Anda memenuhi panggilan pengadilan untuk diperiksa. Anda bersalah?
Y: Warga negara yang baik itu taat hukum.
(c) Usahakan pernyataan yang ringkas (tidak bertele-tele).
Contoh:
X: Apakah dengan menikah lagi Aa’ tidak takut ditinggalkan jama’ah?
Y: Saya hanya ingin melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar. Karena itulah tugas yang harus saya emban sampai saya mati nanti.
(d) Usahakan berbicara dengan teratur.
Contoh:
X: Jelaskan apa tujuan penelitian Anda!
Y: Adapun yang menjadi tujuan daripada penelitian yang ada di dalam penelitian adalah untuk dapatnya memperoleh deskripsi struktur mantra saja.
• Prinsip Sopan Santun
(1) Maksim kearifan:
(a) buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin.
(b) buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Contoh:
X: Mau sewa mobil mahal Pak. Padahal saya urusan saya banyak.
Y: Tak usah memikirkan sewa! Pakailah mobilku ini!
(2) Maksim kedermawanan:
(a) buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin.
(b) buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin.
Contoh:
X: Aduh bagaimana ini pak? Harus dibagi berapa-berapa berasnya?
Y: Sudahlah, saya ambil satu ons saja.
X: Tapi Bapak butuh banyak kan?
Y: Tidak apa-apa.
(3) Maksim pujian:
(a) kecamlah orang lain sesedikit mungkin.
(b) pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Contoh:
X: Bagaimana pendapatmu tentang novelku ini?
Y: Warna sampulnya saja yang kurang menarik. Isinya bagus sekali Pak.
(4) Maksim kerendahan hati:
(a) pujilah diri sendiri sesedikit mungkin.
(b) kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Contoh:
X: Wah hebat bisa kamu juara!
Y: Ah cuma tingkat RT. Kalau tingkat RW, saya ini tidak ada apa-apanya.
(5) Maksim kesepakatan:
(a) usahakan ketidaksepakatan dengan orang lain sesedikit mungkin.
(b) usahakan kesepakatan dengan orang lain sebanyak mungkin.
Contoh:
X: Anda setuju dengan ide saya?
Y: Satu saja yang kurang setuju Pak. Lainnya, saya setuju semua.
(6) Maksim simpati:
(a) kurangilah rasa antipati kepada orang lain hingga sekecil mungkin.
(b) tingkatkanlah rasa simpati kepada orang lain hingga sebesar mungkin.
Contoh:
X: Saya sangat kecewa dengan hasil yang saya raih ini?
Y: Kenapa begitu? Tapi saya bangga kalau kamu kecewa. Karena dengan begitu berarti kamu punya semangat yang tinggi untuk mendapat hasil yang jauh lebih baik.
Maksim-maksim yang telah dijabarkan di atas bersifat regulatif, artinya mengatur dan bukan konstitusi atau sebagai unsur. Prinsip-prinsip itu regulatif, artinya mengatur penggunaan bahasa (tutur) agar komunikasi berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan secara efektif. Misalnya, seorang bupati mengaplikasikan PK dalam pidatonya, dia mengatakan bahwa, “Tujuan rapat ini adalah untuk mengevaluasi kinerja Panitia Perayaan Maulid Nabi”. Dengan demikian komunikasi dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan dengan efektif. Namun apabila bupati tersebut tidak mengaplikasikan PK, misalnya dengan mengucapkan, “Tujuan rapat ini tidak lain tidak bukan adalah sebagai sebuah evaluasi daripada kinerja-kinerja panitia acara kita bersama yaitu maulid nabi”, maka komunikasi tidak dapat berjalan lancer dan tujuannya tidak dapat dicapai secara efektif.
Berkaitan dengan tujuan komunikasi, Mey (1996:55) mengusulkan satu prinsip yang mendasar, yakni prinsip komunikatif, karena menjadi fondasi dari semua tingkah laku linguistik dan premis terkecil yang disepakati dalam penelitian aktivitas pragmatik manusia. Namun demikian, pada kenyataannya, tujuan komunikasi tidak selalu dapat dicapai dengan mematuhi prinsip-prinsip tersebut. Banyak tuturan yang justru lebih efektif dengan melanggar prinsip-prinsip itu. Leech (1993:12) menandaskan bahwa prinsip/ maksim dapat saling berlawanan satu sama lain dan dapat dilanggar tanpa meniadakan jenis tindakan yang dikendalikannya. Misalnya, dalam masyarakat jawa di Indonesia, meskipun melanggar maksim kuantitas dan mengikuti maksim kerendahan hati, tuturan (1) yang diucapkan oleh seorang santri kepada kyainya dinilai lebih efektif daripada tuturan (2).
(1) Dalem nyuwun agunging samudra pangaksami kyai. Menawi kersa, mangga diaturi pinarak.
(saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kyai. Apabila berkenan, saya mohon mampir dulu)
(2) Mangga pinarak.
(silahkan mampir.)

KESIMPULAN

Pragmatik adalah studi yang mengkaji tuturan dari segi makna dan konteks yang menyertai tuturan tersebut. Pada hakikatnya pragmatik sama dengan semantik, yakni sama-sama mengkaji makna suatu tuturan. Hanya saja semantik mengkaji makna suatu tuturan secara internal, sedangkan pragmatik mengkaji makna suatu tuturan secara eksternal.
Pada mulanya pragmatik dianggap sebagai hal yang tidak penting, namun pandangan ini berubah ketika pada akhir tahun 1950-an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis. Dan semenjak munculnya semangat California atau bust pada tahun 1960-an pragmatik mulai tercakup dalam kajian linguistik.
Pada umumnya, prinsip-prinsip pragmatik mencakup Prinsip Kerjasama (PK) dan Prinsip Sopan Santun (PS). Kedua prinsip ini masing-masing termanifestasikan dalam maksim-maksim yang bersifat regulatif, yang digunakan untuk mengatur pemakaian bahasa agar komunikasi berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan secara efektif. Namun pada kenyataannya, tujuan komunikasi tidak selalu dapat dicapai dengan mematuhi prinsip-prinsip tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Andianto, M. Rus. 2005. Dasar-dasar Pragmatik. Jember: Universitas Jember.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Gunarwan, Asim. 1993. Pragmatik: Pandangan Mata Burung. Jakarta: Unika Atmajaya

Leech, Geoffrey. 1983. Prinsip-prinsip Pragmatik. (terjemahan M.D.D Oka). 1993. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. London: Cambridge University Press.

Mey, Yacob L. 1996. Pragmatics: An Introduction. Cambridge: Blackwell Publishers Inc.

Poerwo, Bambang Kaswanti. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Kanisius.

Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

0 komentar: