BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 05 Maret 2011

Analisis Wacana

PENDAHULUAN

Analisis wacana adalah salah satu alternatif dari analisis isi kuantitatif yang dominan dan banyak dipakai. Jika analisis kuantitatif lebih menekankan pada pertanyaan “apa”( what), analisis wacana lebih melihat pada “bagaimana” (how) dari pesan atau teks.
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa/ pemakaian bahasa. Ada tiga pandangan dalam analisis wacana, yakni paham positivisme-empiris, paham konstruktivisme, dan pandangan kritis. Pandangan kritis inilah yang kemudian disebut dengan analisis wacana kritis.
Salah satu kelebihan analisis wacana kritis dibandingkan dengan analisis wacana yang lain (analisis wacana biasa) adalah kemampuannya menguak lebih dalam isi wacana. Dengan pendekatan interdisipliner, analisis wacana kritis mampu menggali ideologi dan pengetahuan yang tersembunyi di balik suatu wacana. Analisis wacana kritis dapat diterapkan pada teks media massa, bahasa politik, iklan, dan lirik lagu.
Salah satu objek yang dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan wacana kritis adalah lirik lagu. Lagu bukan hanya sekedar sarana hiburan, akan tetapi di dalam lirik-liriknya terdapat pesan yang ingin disampaikan oleh si pengarang. Lagu-lagu yang biasanya digemari oleh masyarakat adalah lagu-lagu yang mempunyai nilai pesan yang dalam dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Karakteristik lagu yang seperti ini terdapat pada lirik lagu-lagu grup band “Slank”. Selain liriknya yang bagus, grup band ”Slank” adalah salah satu band papan atas di Indonesia yang mempunyai beribu-ribu penggemar. Karena alasan itulah makalah ini akan mengambil salah satu lirik lagu grup band “Slank” sebagai objek penerapan analisis wacana kritis.
Lirik lagu dari grup band “Slank” yang akan dianalisis dalam makalah ini berjudul Kalau Aku Jadi .Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui makna yang tersembunyi di balik lirik lagu Kalau Aku Jadi karya grup band “Slank”. Selain dapat dijadikan sebagai bahan referensi, makalah ini diharapkan mampu menjadi pembelajaran bagi mahasiswa dalam menganalisis wacana.



PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN WACANA.
Jika wacana dilihat dalam perpektif kata benda, wacana berarti komunikasi verbal atau juga bisa diartikan percakapan. Namun jika dilihat dalam perpektif linguistik, wacana memiliki tiga pengertian, yaitu:
1. Keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan.
2. Satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah.
3. Kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat.
(KBBI, 2008:1552)
Hawthorn (dalam Eriyanto, 2006:10) mengemukakan bahwa wacana ialah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran diantara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal dimana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya. Menurut Collins Concise English Dictionary (1984), wacana diartikan sebagai 1) komunikasi verbal, ucapan, percakapan, 2) sebuah perlakuan formal dari subjek dalam ucapan atau tulisan, 3) sebuah unit teks yang digunakan oleh linguis untuk menganalisis satuan lebih dari kalimat. Sedangkan menurut Roger Fowler (dalam Eriyanto,2006:2) wacana adalah komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan ketegori yang masuk di dalamnya ; kepercayaan di sini mewakili pandangan dunia, sebuah organisasi, atau representasi dari pengalaman.
Disamping pengertian di atas, ada tiga kelompok pengertian wacana yang lain, yaitu pengertian wacana yang dikembangkan oleh aliran struktural, fungsional, dan struktural-fungsional (Schiffrin, 1994:23-41). Menurut aliran struktural, wacana merupakan organisasi bahasa di atas tataran kalimat atau klausa (Stubbs, 1983:10). Dalam pandangan fungsional wacana dianggap sebagai bentuk kebiasaan sosial (Fairclough, 1988:22). Menurut aliran struktural-fungsional wacana merupakan tuturan ungkapan yang di dalamnya terdapat unsur struktur, fungsi, dan konteks.
2. PAHAM DALAM ANALISIS WACANA.
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai definisi, titik singgungnya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa/ pemakaian bahasa. Ada tiga pandangan alam analisis wacana, yakni :
1) Positivisme-empiris.
Analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran / ketidakbenaran. Aliran ini memandang bahasa sebagai jembatan manusia dengan objek luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala, sejauh ia dinyatakan dengan memakai pernyataan yang logis, sintaksis dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Konsekuensinya, orang tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif, atau nilai yang mendasari pernyataannya, sebab yang penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantik.
2) Konstruktivisme.
Paham ini menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan-hubungan sosialnya. Analisis wacana dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud atau makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan.
3) Pandangan Kritis.
Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikiran-pikirannya, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa : batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pementukan subjek, dan berbagai macam tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. Karena memakai perspektif kritis, maka analisis wacana dalam kategori ini disebut juga Analisis Wacana Kritis (AWK).

3. ANALISIS WACANA KRITIS.
Analisis wacana memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis di sini agak berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks di sini berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.
Analisis wacana kritis (AWK) merupakan penerapan analisis wacana dengan perspektif interdisipliner. Apabila analisis wacana hanya difokuskan pada penggunaan bahasa alamiah dengan analisis semata-mata bersifat liguistis, AWK berusaha menjelaskan penggunaan bahasa dikaitkan dengan perspektif disiplin lain, seperti politik, gender, dan faktor sosiologis lain. Prinsipnya ialah menggali sistem nilai dan kepercayaan sosial yang tersirat di dalam teks atau wacana.
Menurut Fairclough dan Wodak, analisis wacana kritis melihat wacana – pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan – sebagai bentuk dari praktik sosial. Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat terjadi. Berikut ini karakteristik analisis wacana kritis menurut Teun A.Van Dijk, Fairclough, dan Wodak:

1) Tindakan
Wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Seseorang berbicara, menulis dan menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk mempengaruhi, mendebat, membujuk, menyangga, bereaksi, dan sebagainya. Selain itu, wacana dipandang sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.
2) Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Titik tolak dari analisis wacana di sini, bahasa tidak bisa dimengerti sebagai mekanisme internal dari linguistik semata, bukan suatu objek yang diisolasi dalam ruang tertutup. Bahasa di sini dipahami dalam konteks secara keseluruhan.
Guy Cook menyebut ada tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana: teks, konteks, dan wacana. Wacana di sini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu konteks komunikasi. Tidak semua konteks dimasukkan dalam analisis, hanya yang relevan dan dalam banyak hal berpengaruh atas produksi dan penafsiran teks yang dimasukkan dalam analisis. Karena itu, wacana harus dipahami dan ditafsirkan dari kondisi dan lingkungan sosial yang mendasarinya.
3) Historis
Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu. Karena itu, pada waktu melakukan analisis perlu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya.
4) Kekuasaan
Setiap wacana yang muncul dalam bentuk teks, percakapan atau apapun, tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dengan masyarakat. Analisis waana kritis tidak membatasi diri padanya pada detil teks atau struktur wacana saja tapi juga menghubungkan dengan kekuatan dan kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya teretentu.
Kekuasaan itu dalam hubungannya dengan wacana, penting untuk melihat apa yang disebut sebagai kontrol. Kontrol tidak harus selalu dalam bentuk fisik secara langsung, tapi juga kontrol secar mental atau psikis.
5) Ideologi
Ideologi juga konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Teks, percakapan, dan yang lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh. Oleh karena itu analisis wacana tidak bisa menempatkan bahasa secara tertutup, tapi harus melihat konteks, terutama bagaimana ideologi dari kelompok-kelompok yang ada tersebut berperan dalam membentuk wacana.

4. PENERAPAN ANALISIS WACANA KRITIS PADA LIRIK LAGU KALAU AKU JADI KARYA “SLANK”.

Berikut ini dikemukakan sebuah lirik lagu Kalau Aku Jadi karya “Slank” sebagai objek yang kemudian dianalisis dengan AWK untuk menemukan makna dibalik teks lirik lagu tersebut.




Kalau Aku Jadi
karya : Slank
Kalau Aku jadi raja minyak
Akan kujatahkan oilku
Supaya mobil-mobil nggak bikin macet
Biar nggak ada perang rebutan minyak
Kalau Aku punya pabrik senjata
Gue jual gue ubah jadi pabrik tahu
Biar tentara nggak saling tembak
Dan duniaku menjadi damai
Kalau Aku punya surat HPH
Akan Kurobek-robek dan aku bakar
Supaya nggak ada izin untuk membabat
Dan hutanku pun tetap lebat
Kalau Aku jadi Presiden
Tolong beritahu siapa yang curang
Supaya nggak ada lagi kebobolan
Dan rakyatku pun jadi tenang

Kalimat petama dari bait pertama lirik tersebut adalah Kalau Aku jadi raja minyak. Dari kalimat tersebut terdapat kata “Kalau” dan “Aku”. Kata “kalau” bersinonim dengan kata “jika, seandainya, seumpama”. Kata “aku”, merujuk pada si penulis itu sendiri. Maksudnya ialah penulis lagu ini ingin mengandaikan atau megumpamakan bahkan memimpikan dirinya mejadi seorang raja minyak. Maksud dari mengandaikan atau mengumpamakan bukan semata-mata hanya sebuah keinginan dan mimpi dari penulis, akan tetapi ada pesan lebih dalam yang terkandung di dalamnya, yakni adanya sebuah harapan dan kemungkinan. Harapan itu bisa untuk dirinya sendiri, atau mungkin juga harapan kepada orang lain, yakni pada penguasa, yang dalam hal ini disimbolkan dengan “raja”. Kata raja adalah simbol dari kekuasaan, orang yang memegang peranan penting dalam suatu pemerintahan.
Kalimat pertama erat hubungannya dengan kalimat kedua. Jika kalimat pertama berisi pengandaian dan harapan penulis menjadi seorang penguasa minyak, maka kalimat kedua berisi tindakan dan kebijakan yang diambil oleh seorang penguasa, yakni Akan kujatahkan oilku, supaya mobil-mobil nggak bikin macet, biar nggak ada perang rebutan minyak.
Seperti yang kita ketahui, setiap tahun di negara kita selalu terjadi kelangkaan BBM. Jika situasai ini sudah terjadi, antrian panjang masyarakat yang memenuhi agen-agen penjual minyak dan SPBU-SPBU tak bisa dihindari. Akibatnya, antrian yang terlalu panjang terkadang bisa menutup badan jalan, sehingga mobil-mobil dan kendaraan yang lewat menjadi macet. Kondisi yang menjadi fenomena tahunan ini, belum juga mendapat jalan keluar dari pemerintah. Mungkin hal inilah yang membuat prihatin penulis, sehingga ia yang mempunyai sebuah gagasan dan pemikiran yang ia tuangkan dalam mimpi-mimpi dan harapannya. Seandainya ia yang menguasai minyak, maka ia akan menjatah minyak pada setiap warga, supaya tidak terjadi monopoli perdagangan minyak dan kasus kelangkaan minyak lagi yang menyebabkan mobil-mobil macet dan masyarakat saling berebut untuk mendapatkan minyak.
Pada bait selanjutnya, si penulis meneruskan harapan dan mimpinya, yakni jika si penulis mempunyai pabrik senjata, maka tindakannya adalah Gue jual gue ubah jadi pabrik tahu. Kata “Gue” adalah sebuah istilah yang diambil dari bahasa gaul, bahasa yang populer di kalangan remaja. Kata “Gue” sama artinya dengan kata “saya / aku”. Perubahan dari kata “aku” di baris pertama pada bait pertama menjadi kata “gue”di baris setelahnya, menggambarkan bahwa penulis ingin melakukan suatu hal sesuai dengan keinginannya. Kata “gue” dimaknai lebih pribadi, lebih bersifat egois daripada kata “aku”. Artinya, si penulis megedepankan egonya untuk melakukan tindakan yang menurutnya benar. Sama halnya seperti sifat remaja yang lebih mengedepankan ego dan selalu ingin bebas berbuat sesuka hati.
Dalam kaitannya dengan lirik sebelumnya, maka penulis mempunyai keinginan menjual pabrik senjata dan menggantinya dengan pabrik tahu, supaya tentara tak saling menembak lagi. Menurut penulis, jika tidak ada pabrik senjata, maka tak akan ada senjata. Jika tak ada senjata, maka tentara tak bisa saling menembak, artinya tak ada lagi peperangan. Dari situ, terlihat bahwa si penulis sesungguhnya tidak menginginkan peperangan di muka bumi ini, melainkan yang diinginkan adalah suatu perdamaian, sama halnya dengan keinginan masyaraka secara keseluruhan. Apa yang ingin disampaikan si penulis, sebenarnya sama dengan apa yang diinginkan masyarakat, yakni adanya suatu perdamaian di bumi. Keinginan penulis dalam hal ini ada kaitannya dengan konflik yang terjadi di dunia nyata, termasuk salah satunya di negara kita. Seperti yang telah kita tahu, peperangan di bumi tidak ada habis-habisnya, mulai dari perang antar negara, antar suku, antar ras, antara pemberontak dan pemerintah, bahkan perang antar saudara. Karena peperangan itulah yang memicu manusia untuk membuat pabrik-pabrik senjata, yang nantinya dapat menghasilkan senjata yang dapat digunakan untuk menghancurkan pihak musuh.
Penulis mengungkapkan gagasan menjual pabrik senjata dan menggantinya dengan pabrik tahu. Pertanyaannya, mengapa harus pabrik tahu? Mengapa bukan pabrik kertas, pabrik tekstil atau pabrik rokok? Tahu di sini merupakan sebuah simbol. Tahu adalah salah satu nama makanan yang terbuat dari kedelai, biasanya berwarna putih dan bersifat lembek.
Manusia memerlukan makanan untuk tetap bertahan hidup. Manusia bekerja keras mancari uang, pada intinya adalah untuk memenuhi kebutuhan makan dan kelangsungan hidup mereka. Manusia bisa mati bila tanpa makan. Dan kenyataannya, masih banyak rakyat yang belum bisa memenuhi kebutuhan makan dan gizinya. Masih banyak rakyat yang pengangguran sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Akibatnya, banyak anak terlantar dan mengalami gizi buruk yang seringkali berujung dengan kematian. Karena itulah, yang dibutuhkan rakyat sebenarnya bukanlah pabrik senjata yang nantinya dapat menyebabkan perpecahan dan kematian, tapi sebenarnya yang dibutuhkan rakyat adalah sumber pekerjaan, penghasilan, dan sumber makanan. Karena itulah “pabrik tahu” dijadikan sebuah simbol pekerjaan, simbol penghasilan, dan juga makanan yang sebenarnya sangat dibutuhkan masyarakat.
Bait ketiga, penulis masih mengungkapkan pikiran, harapan dan impiannya. Kali ini penulis mengaharap jika seandainya ia mempunyai surat HPH (Hak Pengusahaan Hutan), maka yang akan dilakukannya adalah merobek surat itu kemudian membakarnya. Artinya, penulis menginginkan ketiadaan surat tersebut, atau dengan kata lain tidak seharusnya surat itu ada dan dibuat. Keinginan penulis memang beralasan, yakni ia tidak menginginkan hutan kita rusak, gundul dan hancur, yang seringkali mengakibatkan bencana seperti banjir dan tanah longsor yang juga selalu menjadi langganan negara kita setiap tahun. Semua bencana itu dipandang sebagai ulah tidak bertanggungjawab manusia yang dengan sewenang-wenang menggunakan haknya atas selembar surat ijin dari pemerintah. Karena itulah, menurut pemikiran penulis, surat HPH sebaiknya dihancurkan saja, supaya tidak ada lagi pihak-pihak yang mepunyai ijin untuk membabat dan merusak hutan sehingga hutan kita tetap lebat dan lestari.
Bait terakhir penulis menyatakan keinginannya, yaitu menjadi presiden. Presiden sama kedudukannya dengan raja, yakni sama-sama orang yang berkuasa dan memegang peran penting dalam suatu pemerintahan. Jika si penulis menjadi presiden, maka yang akan dilakukannya adalah memberantas tindak-tindak kecurangan yang terjadi di dalam pemerintahan, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Caranya adalah dengan meminta bantuan kapada pihak-pihak tertentu untuk melaporkan orang-orang pemerintahan yang berlaku curang dan menghukumnya dengan hukuman yang setimpal. Kata “tolong” berarti meminta bantuan kepada orang lain, hal ini menyiratkan bahwa presiden tidak dapat berbuat seorang diri dalam memberantas penjahat pemerintahan. Karena itulah presiden meminta bantuan dan kerjasama kepada pihak-pihak tertentu untuk mengungkap kebenaran. Pertanyaannya, siapakah pihak-pihak yang dimintai tolong? Pihak-pihak yang dimaksud dalam hal ini bisa polisi, KPK, hakim dan jaksa, orang-orang pemerintahan sendiri, atau bisa juga rakyat.
Seperti yang kita tahu, banyak sekali tindak kecurangan yang terjadi dalam pemerintahan kita. Negara kita sudah mendapat predikat sebagai salah satu negara yang mempunyai tingkat korupsi tertinggi di dunia. Artinya, pemerintahan kita bukanlah pemerintahan yang bersih, buktinya setiap tahun selalu saja ada koruptor dan penjahat pemerintahan lain yang tertangkap. Ironisnya, para koruptor dan penjahat pemerintahan itu tidak hanya para petinggi kelas kakap seperti menteri, akan tetapi polisi, hakim, jaksa, pejabat rendahan, bahkan pihak pemberantas korupsi sendiri juga ikut terlibat dalam tindak kejahatan terhadap pemerintahan. Kenyataan inilah yang membuat rakyat kecewa dan tidak lagi percaya pada pemerintah. Karena orang-orang yang mereka percaya justru membohongi dan mengkhianati rakyat. Akibatnya, rakyat dilanda krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Karena itu, jika para penjahat itu ditangkap dan dihukum secara setimpal, maka tidak akan lagi kecurangan dan ‘kebobolan’ dalam pemerintahan. Pemerintahan kita akan menjadi pemerintahan yang bersih dan rakyatpun akan merasa tenang. Itulah gagasan dan harapan yang diinginkan oleh penulis.
Dari beberapa ulasan di atas, kita dapat melihat makna yang tersembunyi di balik lirik lagu “Kalau Aku Jadi” karya grup band “Slank”. Dapat diketahui bahwa sebenarnya apa yang diungkapkan dan diinginkan penulis bukanlah untuk dirinya sendiri, akan tetapi keinginan, harapan dan impian itu ditujukan untuk penguasa, yakni presiden, yang dalam hal ini dimetaforkan dengan kata “raja” dan “presiden”. Penulis sebenarnya hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan rakyat. Gagasan-gagasan yang telah dijelaskan tadi adalah sebuah ideologi yang ingin disampaikan dan ditawarkan penulis kepada penguasa (presiden) untuk memperbaiki dan mengubah nasib buruk yang dialami negara dan rakyat kita.
Gagasan tersebut bisa juga merupakan sebuah kritik yang ditujukan kepada pemerintah terhadap kenyataan nasib buruk yang dialami oleh rakyat dan negara kita. Penulis ingin mengkritik upaya dan tindakan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah yang dianggap ‘lalai’ dan kurang mampu dalam menjalankan dan mengatur pemerintahan. Ketidakmampuan pemerintah ditandai dengan tidak adanya perubahan terhadap nasib buruk yang menimpa bangsa dan rakyat kita ke arah yang lebih baik. Karena itulah, penulis ingin menyindir pemerintah melalui kata “Kalau aku” yang terdapat pada setiap awal bait. “Aku” di sini dalam artian penulis bertindak sebagai rakyat. Rakyatlah yang selalu merasakan dampak negatif dari buruknya sistem pemerintahan. Karena itulah, harapan penulis ialah jika pemerintah mau meninjau dan mengerti apa yang dialami dan dirasakan rakyat, maka pemerintah akan mampu membuat kebijakan yang dapat meringankan dan membebaskan rakyat dari penderitaan.
Gagasan dan kritik yang disampaikan oleh penulis melalui lagu tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah tindakan untuk menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah. Karena penulis juga seorang seniman, maka tindakan yang dilakukan dalam rangka menyampaikan aspirasi rakyat itu dilakukan secara sadar dan terkontrol melalui karya-karyanya, yang dalam hal ini adalah lagu.
Jika kita melihat sosok penulis yang merupakan seorang public figur dan mempunyai banyak penggemar, tidak sulit baginya untuk menyatakan ideologinya dan mempengaruhi pola pikir masyarakat dengan ideologi tersebut , apalagi bagi mereka yang mengidolakannya, pastilah setiap apa yang diungkapkan melalui lagu tersebut akan diterima di-amini oleh masyarakat. Apalagi keinginan-keinginan yang diungkapkan oleh penulis sama dengan yang diinginkan masyarakat di seluruh tanah air. Penulis juga bagian dari masyarakat, karena itulah hal-hal yang diungkapkan oleh penulis merupakan refleksi dari kemauan rakyat.


KESIMPULAN

Analisis wacana kritis merupakan penerapan analisis wacana dengan perspektif interdisipliner. Analisis waana kritis berusaha menjelaskan penggunaan bahasa dikaitkan dengan perspektif disiplin lain, seperti politik, gender, dan faktor sosiologis lain. Prinsipnya ialah menggali sistem nilai dan kepercayaan sosial yang tersirat di dalam teks atau wacana. Karena itulah analisis wacana kritis dapat diterapkan pada teks media massa, bahasa politik, iklan, dan lirik lagu.
Makna yang tersembunyi di balik lirik lagu “Kalau Aku Jadi” karya grup band “Slank” yaitu sebenarnya penulis ingin menyampaikan dan menawarkan gagasan dan ideoleoginya kepada penguasa (presiden) untuk memperbaiki dan mengubah nasib buruk yang dialami negara dan rakyat kita. Selain itu, lagu tersebut merupakan sebuah kritik yang ditujukan kepada pemerintah atas kelalaian dan ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi kenyataan nasib buruk yang menimpa rakyat dan negara kita.
Gagasan dan kritik yang disampaikan oleh penulis melalui lagu tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah tindakan untuk menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah. Penulis juga adalah rakyat negara ini, karena itulah hal-hal yang diungkapkan oleh penulis merupakan refleksi dari kemauan rakyat.









DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama
Eriyanto.2006.Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta: LkiS
Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
http://musiklib.org/Slank-Kalau_Aku_Jadi_Presiden-Lirik_Lagu.htm

0 komentar: